Assalamu'alaikum Dunia

RSS

Sabtu, 10 November 2012

Budaya, Apa Kabar mu? oleh bapak D.Zawawi Imran , Ir. Sofyan Edi Jarwoko( DPRD kota Malang), dan bapak Agus Sunyoto (budayawan)



Budaya, Apa Kabar mu?
Add caption
Assalamu’alikum wr.wb 

Sudah sebulan lamanya tidak singgah di dunia blogger hampir saja  lupa cara posting entri terbaru bahkan keyboard pun mulai tak mengenal jari jemari  yang berusaha menari di depan layar monitor.serentetan tugas mulai sedikt berlalu.mulai dari  seminar proposal,ujian tengah semester serta beberapa kegiatan kegitan eksrakurikuler yang sedikit menyita waktu namun menambah ilmu.maka Kali ini penulis ingin menyajikan sedikit ilmu yang didapat pada seminar budaya yang diadakan BEM fakultas Humaniora & Budaya UIN MALIKI Malang, dengan mengangkat tema “BUDAYA, APA KABAR MU?”.
Budaya adalah sesuatu yang harus dibudidayakan, itu artinya sesuatu yang harus dijaga dan dilestarikan serta di kembangkan sehinngga melahirkan nilai nilai yang berharga sebagai  sumber kekayaan bumi indonesia.
Bapak Ir. Sofyan Edi Jarwoko( DPRD kota Malang) megatakan bahwasanya budaya itu identik dengan bentuk semar(salah satu tokoh perwayangan) dengan tangan bersedakap ke depan, sedang tangan satunya berada dibelakang.itu artinya semar adalah sosok lurah yang penuh wibawa dan selalu mengayomi. lurah ibarat bangsa indonesia yang senantiasa mengayomi sejarah.hal ini terbukti dengan beragamnya budaya - budaya yang ada di seluruh indonesia. Keanekaragam budaya indonesia  merupakan berkah sang maha kuasa,namun seiring dengan perkembangan zaman mengakibatkan budaya budaya tradisional mulai terkikis oleh budaya asing  yang meggrogoti jiwa generasi penerus bangsa.
 hal ini terbukti dengan adanya segerombolan pemuda pemudi yang berdesak desakan demi mendapatkan tiket masuk menonton artis korea, suju, snsd , k- pop dsb. Mereka lebih memilih artis korea dari pada pertunjukan pertunjukan trasisional seperti, wayang kulit, reog ponorogo, karapan sapi madura, tari  bali dsb. Dari sinilah keinginan mahasiswa humaniora & budaya untuk mendiskusikan degradation  budaya yang semakin terkikis di bumi indonesia tercinta.
Pada seminar ini juga kita berkesempatan untuk mendengarkan orasi dari kakek kita bapak D. Zawawi Imran (si celurit emas) , yang mungkin tidak asing lagi ditelinga pembaca sekalian, beliau adalah sastrawan Indonesia yang meraih Hadiah Sastra Asia Tenggara atau South East Asia Write Award 2011, yang dilaksanakan di Mandarin Oriental, Bangkok belum lama ini. Penghargaan sastra kepada D. Zawawi Imron diberikan langsung oleh Putri Sirivannari Nariratana, mewakili Putra Mahkota Kerajaan Thailand, Pangeran Maha Vajiralongkorn. 
 Penyair berjuluk Celurit Emas itu, kemudian mengupas persoalan cinta Tanah Air, yang disebutnya bahwa Indonesia masih membutuhkan bantuan orang asing untuk mengetahui bahwa nusantara ini adalah negri yang indah. Ia menceritakan bahwa pada tahun 1960-an, Rektor Universitas Al Azhar Kairo Syaikh Mahmud Syaltut berkunjung ke Indonesia, dan melukiskan negeri ini dengan sangat dahsyat. "Mahmud Syaltut melukiskan Indonesia sebagai serpihan surga yang diturunkan Allah SWT ke bumi," katanya. 
Beliau juga mengatakan ketika beliau menghadiri acara penghargaan  Sastra Asia Tenggara atau South East Asia Write Award 2011, beliau di sambut dengan tarian tarian thailand, beliaupun menyimpulkan tari thailand dalam acara penyambutan nilai seninya   tak seindah tari nusantara seperti halnya tari bali,jaipong, piring dsb. Begitu juga dengan alam di thaland yang sebagian besar pegunugan yang sangat jauh sekali dengan benteng alam dan keindahan alam indonesia. Namun anehnya ketika diadakan  survei lapangan Habib Rauf mengatakan jumlah wisatawan asing d tahun 2011 yang berkunjung ke Indonesia berkisar antara 7 juta sedangkan wisatawan asing yang berkujung ke Thailand berkisar antara 27 juta jiwa.
Kenapa terjadi hal demikian??hal ini adalah kembali ke kesadaran kita sebagai warga yang berbudaya, maka untuk melestarikan dan mempercantik keindahan di tanah air  harus disertai perilaku penduduk yang indah Seperti sosok sunan kalijogo (budayawan terindah yang mencetuskan wayang kulit). Sudah barang tentu harus disertai pula dengan kehidupan yang harmonis , saling menghargai antar partai yang akan menumbuh kembangkan budaya karena bendera terindah bukanlah bendera partai, namun bendera indonesia “bendera merah putih”.
 di akhir acara beliau menyatakan dengan semangat yang berkobar sambil mengumandangkan puisi untuk indonesia ku tercinta(si penulis ini merasa tersihir mendengar alunan suara puitis beliau) nge fans mbah hehehehe. Kemudian beliu menutup dengan penekanan bagi kesadaran bangsa indonesia agar sadar akan indah nya alam indonesia . INDONESIA KU IJO ROYO ROYO. Dengan semboyan “dadio wong sing iso rumongso, ojok dadi wong sing rumongso iso (jadilah kamu orang yang bisa merasa, bukan jadi orang yang merasa bisa)
success selalu buat bapak kami mahasiswa uin maliki malang akan selalu berusaha berbudaya satu yaitu budaya indonesia
salam budaya !!!
wassalamu’alaikum semoga bermanfaat ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

شكرا على حسن إهتمامكم